Bismillahirrohmaanirrohiim.
“Berapa
putaran sabeum?”
“15
menit, continuous-run ya, kecepatan larinya harus stabil dari awal sampai
akhir.”
Percakapan
singkat ini selalu terjadi ketika tim Taekwondo junior tingkat SMA dan senior
tingkat universitas yang kami bina mengawali latihan beberapa bulan sebelum
terjun mengikuti kejuaraan. Dan latihan yang dilakukan pun bertahap, biasanya
untuk minggu-minggu awal dilakukan dengan durasi yang paling pendek, dan hingga
minggu akhir latihan fisik dengan durasi yang cukup lama, bahkan hingga kurang
lebih 30 menit. Hal ini dilakukan agar para atlet memiliki kekuataan nafas yang
memadai untuk menghadapi pertandingan di atas lapangan nantinya.
Latihan
continuous-run ini mirip dengan olahraga lari marathon. Dan biasanya
dimomen-momen bersejarah di kota Jakarta ini juga diselenggarakan 10K marathon,
yaitu berlari sejauh 10 kilometer. Bukan jarak yang dekat untuk ditempuh hanya
dengan berlari, dan pastinya memerlukan persiapan dan latihan yang sangat
matang, jika tidak? Tentu akan menyiksa dan mencelakai atlet itu sendiri. Salah
satu trik yang pernah saya dapat dari rekan sesame pelatih, ketika melakukan continuous-run,
atau lari marathon adalah tidak perlu langsung memacu dan mengeluarkan energi besar
diawal, karena nantinya di tengah perjalanan menuju garis finish kita sudah
kehabisan sumber daya, yang cenderung akhirnya membuat kita melambat,
terseok-seok menuju garis finish, atau bahkan dengan terpaksa tidak dapat
melanjutkannya.
Lalu,
adakah kaitannya antara marathon dengan pernikahan? Ternyata ada.