Selasa, 21 Juli 2015

Islam Tidak Mengenal Toleransi

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Terdiri dari beragam suku bangsa. Beraneka ragam pula latar budaya serta bahasa. Dan tentu juga banyak agama yang dianut membuat zamrud khatulistiwa menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Saling menghargai dan menghormati meski berbeda bahasa, warna kulit, latar belakang budaya dan toleransi tertinggi, menghargai antar umat beragama.

Namun terkadang, issue toleransi dalam beragama sering menjadi topik panas ketika terjadi suatu konflik yang menyangkut pautkan perbedaan agama antara pihak yang bersengketa. Islam, sebagai agama yang mayoritas di bumi Indonesia adalah yang paling menjadi sasaran dalam praktek toleransi dalam beragama. Dan bukan hanya di Indonesia, mungkin juga dunia, islam dikenal sebagai agama yang tak mengenal toleransi kepada agama lain. Apakah benar islam adalah agama yang tidak mengenal toleransi? Islam adalah agama yang kejam? Berlabel teroris? Jika islam memang tidak mengenal dan mengamalkan toleransi, maka sejarah berikut ini akan menjadi bukti tentang islam dan toleransi.



Suatu Masa, Ketika Islam Menjadi Adidaya 

Penyerahan kunci Istana Al-Hamra oleh Sultan Muhammad As-Shaghir kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada 2 January 1492 M menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Itu artinya, secara politik Islam sama sekali tidak memiliki hak terhadap Spanyol

Namun berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol tidak serta merta mengakhiri kisah kaum muslimin di negeri itu, penyerahan kekuasaan justru merupakan awal dari sejarah kelam kaum muslimin di sana. Piagam Granada yang menjanjikan kebebasan beragama bagi kaum muslimin rupanya tidak berumur panjang. Pada tahun 1502 umat Islam diberi dua opsi, mameluk Kristen atau pergi meninggalkan bumi Spanyol. Artinya, menetap di Spanyol dengan tetap memeluk agama Islam sama artinya dengan bunuh diri. Banyak kaum muslimin yang memilih meninggalkan Spanyol, namun tidak sedikit yang memilih pindah agama secara dzohir, namun tetap beribadah secara Islami dengan sembunyi-sembunyi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum Moriscos.

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan kaum Moriscos dianggap sebagai sebuah ancaman. Sehingga antara tahun 1508-1567 keluar sejumlah peraturan yang melarang segala hal yang bernuansa Islam, baik pakaian maupun nama. Penggunaan bahasa Arab juga dilarang. Anak-anak kaum muslimin dipaksa untuk menerima pendidikan dari para pendeta Kristen. Puncaknya pada tahun 1609-1614 sebanyak 300.000 Moriscos diusir dari Spanyol oleh Raja Philip III. Benar-benar sebuah kenyataan sejarah yang pahit dan menyedihkan.

Dari Spanyol mari kita pindah ke belahan bumi yang lain, tepatnya ke Turky tempat dimana kekhalifahan Ottoman berpusat. Setelah mendengar penyiksaan yang dilakukan penguasa Spanyol terhadap kaum muslimin, Sultan Salim I marah besar, dia mengeluarkan Dekrit yang berisi perintah kepada seluruh penganut Yahudi dan Nasrani yang berada di bawah kekuasaannya untuk memilih satu dari dua opsi, tinggal menetap dengan catatan memeluk agama Islam atau pergi meninggalkan Tanah Kekhalifahan. 

Mendengar Dekrit tersebut, Syaikh Ali Afandi At-Tirnabily selaku Mufti Ottoman saat itu menyampaikan penolakannya terhadap Dekrit Sultan. Mufti menjelaskan bahwa Dekrit tersebut tidak boleh dilaksanakan sekalipun kaum muslimin disembelih di negeri-negeri Salib. Mufti juga menjelaskan bahwa selamanya tidak ada paksaan dalam beragama. 

Akhirnya Sultan Salim menarik keputusannya dan membiarkan penganut Yahudi dan Nashrani tinggal dengan aman dan damai di bawah pemerintahannya. Iya, mereka semua tinggal dengan aman dan damai disaat pemerintah Spanyol menyembelih ratusan ribu kaum muslimin di negaranya.

Allahu Akbar.. Betapa agungnya Islam..
Betapa agungnya peradaban Islam… 

Sikap Sultan Salim yang tunduk pada rambu-rambu keislaman sudah cukup sebagai jawaban bahwa Islam bukan teroris, namun sebagai rahmatan lil 'aalamin. Dimana bila Islam berkuasa, dia akan menjadi pengayom bagi semua.

Andai Islam intoleran seperti yang mereka tuduhkan, tentu tidak akan satu Yahudi atau satu Kristenpun yang tersisa di tanah Andalus, Turky, Mesir, Lebanon, Jordan dan sejumlah negara lainnya saat Islam berkuasa di sana.

Inilah sejarah kami…
Jadi tak usah mengajari kami soal toleransi.

Sumber bacaan:
1. Tarikh Al-Muslimiin Fi Al-Andalus. DR. Muhammad Suhail Thaqus. Penerbit: Daar A-Nafais
2. Udzama’ Al Mi’ah. Jihad At-Turbany. Penerbit: Daar At-Taqwa
_________
Madinah, 02-08-1436 H
ACT El Gharantaly

Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Bahkan tatkala Madinah dipimpin oleh Rasulullah dan umat islam lainnya, di sana tinggal dengan damai pemeluk agama lainnya. Tidak ada paksaan bagi mereka untuk menjadi muslim. Mereka bisa tinggal dengan nyaman meski dibawah aturan islam. Karena islam adalah rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi semesta alam. Dimanapun islam ditegakkan, maka itu adalah manfaat dan kebaikan bagi seluruh makhluk yang ada di sana.

Islam itu sempurna, namun kami (muslim) tidak. Jika jika kami melakukan keburukan, janganlah kalian menyalahkan islam, tapi salahkan lah kami. Jangan terbalik.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Bbm: 541d7084

Tidak ada komentar:

Posting Komentar