“Berapa
putaran sabeum?”
“15
menit, continuous-run ya, kecepatan larinya harus stabil dari awal sampai
akhir.”
Percakapan
singkat ini selalu terjadi ketika tim Taekwondo junior tingkat SMA dan senior
tingkat universitas yang kami bina mengawali latihan beberapa bulan sebelum
terjun mengikuti kejuaraan. Dan latihan yang dilakukan pun bertahap, biasanya
untuk minggu-minggu awal dilakukan dengan durasi yang paling pendek, dan hingga
minggu akhir latihan fisik dengan durasi yang cukup lama, bahkan hingga kurang
lebih 30 menit. Hal ini dilakukan agar para atlet memiliki kekuataan nafas yang
memadai untuk menghadapi pertandingan di atas lapangan nantinya.
Latihan
continuous-run ini mirip dengan olahraga lari marathon. Dan biasanya
dimomen-momen bersejarah di kota Jakarta ini juga diselenggarakan 10K marathon,
yaitu berlari sejauh 10 kilometer. Bukan jarak yang dekat untuk ditempuh hanya
dengan berlari, dan pastinya memerlukan persiapan dan latihan yang sangat
matang, jika tidak? Tentu akan menyiksa dan mencelakai atlet itu sendiri. Salah
satu trik yang pernah saya dapat dari rekan sesame pelatih, ketika melakukan continuous-run,
atau lari marathon adalah tidak perlu langsung memacu dan mengeluarkan energi besar
diawal, karena nantinya di tengah perjalanan menuju garis finish kita sudah
kehabisan sumber daya, yang cenderung akhirnya membuat kita melambat,
terseok-seok menuju garis finish, atau bahkan dengan terpaksa tidak dapat
melanjutkannya.
Lalu,
adakah kaitannya antara marathon dengan pernikahan? Ternyata ada.
Sering saya
berbincang dengan kawan sejawat membahas tentang hal penting ini untuk melangkah
pada pernikahan. Ya, biaya pernikahan. Kadang saya sampai tertegun jika
mendengar nominal yang dikeluarkan oleh si punya hajat, mulai dari 100 juta,
bahkan sampai ada yang hampir menyentuh hitungan milyar, dan itu hanya untuk
biaya resepsi pernikahan, namun bukankah pernikahan itu bukan hanya hari itu
saja? Pernikahan yang sebenarnya baru akan dimulai keesokan harinya. Memang,
itu hak masing-masing mempelai dan keluarganya untuk mengeluarkan berapapun
nominal untuk momen berharga seumur hidup itu, namun sangat disayangkan jika
ternyata ada beberapa dari kita yang memaksakan di luar kemampuannya. Tak sedikit
yang ujungnya berhutang untuk membiaya resepsi yang mewah tersebut. Pernikahan yang
harusnya diawali dengan kesenangan malah harus dipusingkan untuk membayar
hutang yang menjulang.
Kawan,
renungkanlah, pernikahan merupakan sebuah marathon panjang yang kita tidak tahu
dimana letak garis akhirnya. Apakah garis akhir itu ternyata dekat ataukah ternyata
sangat jauh? Tentunya untuk menyusuri hingga akhir dalam marathon pernikahan
itu kita harus pintar mengatur segala sumber daya yang kita miliki, termasuk
finansial. Jangan hanya karena finansial yang kamu langsung banyak keluarkan di
awal pernikahan, saat resepsi malah menyusahkan pernikahan kalian di kemudian
hari. Betapa banyak saya mendengar cerita tentang mereka yang pernikahannya
menjadi kurang harmonis disebabkan kendala ekonomi. Terkadang juga sedih
tatkala mendengar ada yang pernikahannya berakhir akibat persoalan yang sama. Masalah
ekonomi. Allah ta’ala memang akan memudahkan rezeki bagi mereka yang menikah,
tetapi tidak berarti kita dengan jor-joran
tidak mengelola finansial dengan apik dari awal pernikahan. Apakah dirimu mau
pernikahan yang saat diri melajang didambakan itu berakhir karena masalah
ekonomi? Apakah kamu tega mengecewakan keluargamu? Dan jika sudah mempunyai
anak, apakah kamu mau anak-anakmu menjadi korbannya?
Aturlah
kemampuan finansialmu, tidak perlu memaksakan resepsi mewah yang di luar
kemampuanmu jika memang itu hanya dipicu oleh gengsi. Banyak gengsi akan
membuatmu mati. Jadi, kapan kamu siap untuk mengikuti marathon kehidupan ini? Hehehe.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Bbm: 541d7084
Tidak ada komentar:
Posting Komentar