Bismillahirrohmaanirrohiim.
Seperti biasa pagi hari adalah waktu dimana
saya harus berangkat ke kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tempat saya
berjuang untuk meraih title sarjana, tapi lebih dari itu, kampus ini adalah
tempat dimana saya belajar banyak ilmu untuk nantinya saya aplikasikan dalam
hidup bermasyarakat walaupun jurusan saya Bahasa dan Sastra Inggris tapi tetap
ada ilmu untuk bermasyarakat
Ada yang special hari ini ketika saya berangkat
ke kampus. Bukan karena menemukan koper berisi uang jutaan, atau ketemu dengan
artis papan atas, tapi lebih berharga dari itu, Allah memberikan hikmah-Nya
sekaligus teguran bagi saya. Apa itu?
Tepatnya di daerah Jalan Ciputat Raya, beberapa puluh meter sebelum fly over Ciputat, di pinggir jalan sebelah kiri saya sedang berjalan dengan tertatih-tatih seorang tunanetra sambil membawa sebungkus besar kerupuk kemplang. Sebagian dari kita mungkin sering melihat seorang tunanetra yang berjalan dengan tongkatnya dan juga sambil menggendong kerupuk kemplang, karena banyak dari mereka yang berusaha mencari nafkah dengan jalan demikian, perlu kita berikan penghargaan. Lalu apa yang membuat tunanetra ini memiliki sesuatu yang ‘lebih’ menurut saya?
Tepatnya di daerah Jalan Ciputat Raya, beberapa puluh meter sebelum fly over Ciputat, di pinggir jalan sebelah kiri saya sedang berjalan dengan tertatih-tatih seorang tunanetra sambil membawa sebungkus besar kerupuk kemplang. Sebagian dari kita mungkin sering melihat seorang tunanetra yang berjalan dengan tongkatnya dan juga sambil menggendong kerupuk kemplang, karena banyak dari mereka yang berusaha mencari nafkah dengan jalan demikian, perlu kita berikan penghargaan. Lalu apa yang membuat tunanetra ini memiliki sesuatu yang ‘lebih’ menurut saya?
Selain sudah dalam usia yang cukup senja dengan
tubuh yang kurus dan bungkuk seperti kurang terurus, bapak ini juga mengalami
kekurangan pada kakinya. Sambil menggendong tas besar berisi kerupuk yang harus
dia jual untuk biaya hidup, di tangan kanan dia memegang tongkat bagi
tunanetra, sementara di tangan kirinya dia mengapit alat bantu jalan. Dengan
terseok-seok dia berjalan sambil mengetuk-ngetuk tongkatnya agar tidak
tersandung atau masuk lubang.
Begitu menusuk hati saya ketika melihat bapak
itu dari sisi jalan yang lainnya. Di usia yang sudah renta, dengan banyak
kekurangan yang dia miliki, namun dia berhati besar dan juga memiliki harga
diri dengan memilih untuk berusaha mencari rezeki dengan cara yang dia bisa,
bukan dengan mengemis dan meminta-minta. Bayangkan sementara banyak yang
kondisinya jauh lebih baik dari dia malah memilih untuk mengemis dan
meminta-minta. Bukan hanya bagi mereka yang mengemis dan meminta-minta, namun
bapak tua itu juga menjadi teguran dari Allah untuk kita yang memiliki banyak
sumber daya yang bisa kita pakai dan maksimalkan namun kita malah malas
berusaha untuk mencari rezeki dari-Nya, dia dengan banyak kekurangan masih
semangat untuk bekerja mencari rezekinya, kenapa kita justru malah malas?
Padahal kita bisa lebih optimalkan semua kemampuan diri untuk mendapatkan
rezeki yang tentunya lebih baik.
Kalau kita justru malas berusaha, itu tandanya
kita tidak bersyukur dengan nikmat-Nya yang berupa kemampuan fisik, pikiran,
dan juga iman. Jangan lagi malas berusaha dalam mencari rezeki-Nya! Yang
penting adalah kita mau berusaha, bagaimana hasilnya? Berdoalah agar Allah berikan yang
terbaik.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Bbm: 541d7084
Tidak ada komentar:
Posting Komentar