Senin, 23 Maret 2015

Melepas Kacamata Kuda

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Media sosial beberapa tahun belakangan ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Yang awalnya hanya ada beberapa jenis media sosial, namun sekarang bertebaran. Mulai dari yang sekedar tempat untuk chat, berbagi audio, berbagi foto, atau yang juga memiliki fasilitas hampir semuanya. Salah satu tujuan bermedia sosial menurut saya adalah untuk menambah teman dan memperluas jaringan. Tentu hal ini menjadi sangat menguntungkan bagi mereka yang menjalani sebuah bisnis. Dimana mereka bisa melakukan perluasan area pemasaran secara lebih mudah. Namun ada juga yang memanfaatkan media sosial hanya sebagai ajang untuk menambah teman atau agar juga bisa dikenal banyak orang.


Pernah ada satu kejadian lucu menurut saya berkaitan dengan media sosial dan tujuannya untuk menambah teman. Saya adalah tipe orang yang senang berteman dengan siapa saja, yang usianya lebih dewasa dari saya, maupun yang usianya masih anak-anak sekalipun. Wanita maupun pria, kalangan kelas atas maupun kelas menengah ke bawah. Suatu ketika ada sebuah undangan permintaan pin bbm yang masuk ke akun bbm yang saya miliki. Seorang perempuan dan bila melihat dari display picture yang dia pakai saya prediksi usianya sekitar anak usia SMP-SMA. Setelah tak lama saya accept undangan pin bbm dari anak ini, dia pun memulai percakapan dengan menanyakan diri saya. Hal biasa bagi kita ketika baru berkenalan dengan orang lain. Namun setelah saya menjawab pertanyaan darinya tentang usia saya, tetiba dia langsung mendelete kontak bbm saya. Hal ini dapat saya ketahui karna chat dari anak ini hilang begitu saja, padahal saya tidak menghapusnya.

Apakah ada masalahnya ketika kita bertemu dan menjalin pertemanan dengan orang lain yang usianya berbeda dengan kita? Entah itu berbeda jauh ataupun tidak. Saya rasa tidak ada salahnya kita menjalin pertemanan dengan orang yang usianya berbeda dari kita. Dari orang yang lebih tua, kita bisa belajar tentang kebijaksanaan, kedewasaan, nasehat yang berguna dalam menjalani hidup. Dari orang yang lebih muda, kita bisa belajar tentang semangat membara, rasa optimis mereka, dan dari anak-anak pun kita bisa belajar, tentang arti ketulusan, kejujuran, bahkan kesabaran ketika menghadapi sikap mereka. Karena dari hal ini pula bisa mempengaruhi cara berpikir kita. Dengan bergaul dan berbincang dengan beraneka ragam orang yang berbeda-beda latar belakang pendidikan, usia, budaya dan juga profesi akan menambah wawasan yang kita miliki, sehingga sudut pandang kita tidak seperti memakai "kacamata kuda".

Apa itu "kacamata kuda"? Pernah melihat kuda yang dijadikan penarik delman atau di beberapa daerah disebut dengan andong? Kuda yang dipakai untuk menarik kendaraan zaman dahulu ini dipakaikan semacam alat yang berfungsi agar sang kuda hanya bisa melihat ke arah depan, tidak bisa melihat apa yang ada di samping, bawah maupun di atasnya. Ya pandangannya hanya ke depan saja. Hanya satu sudut pandang agar sang kuda bisa tenang berjalan lurus ke arah manapun sang kusir menggerakkan tali kemudinya.

Tetapi jika hal ini terbawa dalam kehidupan nyata, sudut pandang dan cara berpikir kita hanya seperti kuda yang dipakaikan kacamata ini, bukanlah kebaikan yang kita dapatkan, namun keburukan yang bisa didapatkan. Orang yang memiliki sudut pandang yang hanya itu-itu saja, wawasan yang tidak berkembang bisa tergerus oleh zaman dan rawan terjadi konflik dengan orang lain yang berbeda sudut pandang dengan dirinya. Bahkan pada beberapa kasus yang pernah saya alami, orang yang memakai "kacamata kuda" juga akan alergi terhadap kritikan yang datang kepadanya. Sementara kritikan yang ada tentunya bisa menjadi saran yang membangun jika kita bisa menanggapinya. Orang yang memakai kacamata kuda dalam bergaul biasanya hanya ingin berteman dengan kalangan yang itu-itu saja, dan dia akan merasa risih jika berada dalam lingkungan yang berbeda dengan yang berbeda dengan dirinya.

Bagi kamu yang aktivis islami, juga perlu untuk melepas kacamata kuda jika sampai saat ini masih memakainya. Jangan hanya mau bergaul dengan yang sudah islami saja, atau yang satu fiqroh saja. Cobalah bergaul dengan fiqroh yang lain, dengan kalangan yang lain. Karena tugasmu menyebarkan keindahan islam yang sebenarnya adalah kepada mereka yang belum paham, bukan kepada mereka yang sudah paham. Bayangkan, jika bergaul dengan mereka yang belum paham indahnya islam saja kamu sudah merasa risih, bagaimana mungkin mereka akan bisa memahami dan menerima keindahan islam? Tetap, etika pergaulan islami juga dijaga.

Jadi sekarang, siapapun kamu, apapun latar belakang kamu, bagi yang masih memakai kacamata kuda dalam pergaulan, yuk sama-sama kita lepaskan, bergaul dengan siapa saja dan dari kalangan apa saja, dan semoga hal itu bisa membawa kita lebih mendekat kepada Sang Pencipta, Allah Ta'ala.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Bbm: 7ed969c0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar