Saya
sangat kaget ketika membaca tulisan Kompasianer Trisna Wati tentang
Hikikomori di Indonesia. Apalagi katanya justru malah orang-orang disana
malah bangga mengatakan dirinya sendiri sebagai seorang Hikikomori.
Geleng-geleng kepala.
Hikikomori mewabah di Indonesia??
Saya
bukan seorang pengamat sosial, tapi saya sangat tertarik terhadap dua
masalah sosial yang terjadi di Jepang dan sudah menjadi momok yang
berkepanjangan hingga akhirnya pemerintah pun turun tangan dan mencari
solusi untuk mengurangi atau bahkan mencegah sampai masalah semakin
berkembang di Jepang.
Pertama
adalah tentang IJIME, bully di Jepang, dulu saya pernah bahas tentang
Ijime di Jepang yang sudah bisa dibilang masalah akut dan masih terlihat
jelas kalau persoalan ini sampai sekarang pun masih membayangi
kehidupan bermasyarakat disini, lalu yang kedua adalah HIKIKOMORI.
Kali ini saya tertarik untuk membahas tentang HIKIKOMORI ini.
Apa
sih HIKIKOMORI itu? Kalau translate harfiah dari artinya adalah menarik
diri atau mengisolasi dirinya sendiri. Kenapa? Karena takut untuk
berinteraksi dengan lingkungan luar, takut untuk menerima penolakan dari
masyarakat. Dan akhirnya mengurunglah orang itu agar tetap merasa
dirinya aman selalu dan terlindungi.
Saya
inget sekali dulu waktu anak sulung saya merengek minta dibelikan game
portable, suami saya langsung bilang NO! Kenapa? Karena efek bermain
game portable ini salah satunya bisa membuat anak menjadi seorang
seorang hikikomori. Terus bermain di dalam kamar tanpa berinteraksi
dengan teman di rumah bahkan dengan keluarganya sendiri. Baru setelah
anak-anak sudah besar dan bisa diajak untuk ber-yakusoku(berjanji) suami saya pun mengijinkan untuk mereka membeli game portable itu dengan hasil tabungan dari uang sakunya mereka.
Anak-anak
diijinkan dengan berbagai syarat yang harus dipatuhi, seperti tidak
boleh bawa game saat bepergian dengan keluarga dan tidak boleh main game
saat sabtu minggu, kenapa? Karena saat-saat itulah harusnya dihabiskan
untuk bercengkerama dengan keluarga dan so far mereka masih `takut`
untuk merobek janji yang telah disepakatinya itu.
Lalu
ada kisah kedua, ini tentang anak sahabat Jepang saya yang sangat
pendiam, hobinya main game dan baca majalah manga. Dulu anak ini adalah
sahabat anak-anak saya, sering sekali main kerumah, tapi setelah
anak-anak ini masuk SD, sudah jarang sekali berkunjung kerumah. Suatu
ketika saat ibunya main kerumah saya, berceritalah kalau anaknya itu
sudah enggan untuk keluar rumah kalau sudah asyik dengan manga-nya,
bahkan bisa itu sambil ketawa ngikik ngikik sendirian dikamarnya. Terus
gimana perasaan ibu? Tentu saja sedih melihat perkembangan anaknya yang
sudah menampakan gejala yang cenderung menyukai `dunia sendirinya` itu.
Saya hanya terdiam, ikut bisa merasakan perasaan sahabat saya, karena
saya juga dulu sangat takut anak saya menjadi seorang yang suka
mengurung diri dikamar.
Kita
tidak pernah menyebut HIKIKOMORI secara lugas dan terang-terangan saat
membicarakan masalah dimana ada saudara, teman atau kita sendiri merasa
terkena penyakit mental ini? Kenapa? Karena itu adalah sesuatu yang
sangat memalukan! Ya, kisah menyedihkan yang perlu untuk ditutupi
tutupi, sama banget dengan kasus Ijime. Kalau bisa jangan sampai ada
orang lain yang tahu.
Jadi
saat ada orang-orang Indonesia malah merasa ini sebagai suatu trend dan
merasa bangga ketika menyebut dirinya seorang HIKIKOMORI dimedia
sosial, karena bagi saya pribadi justru it`s so pathetic.
Kenapa
bisa mewabah di Indonesia? Entahlah, apa karena kata itu dari Jepang
yang dianggap keren kalau jadi follower-nya, atau sudah ngerti arti
harfiah nya tapi tetep secara sadar nempelin sendiri dijidat nya kalau
dia itu seorang Hikikomori. Duh ngakak saya kalau begitu ya jelas banget
dia bukan hikikomori sejati hehehe wong orang yang berkecenderungan
berprilaku begini pun ogah tauk dicap Hikikomori.
Dulu
pernah saya nonton TV yang membahas detail tentang masalah Hikikomori
di Jepang yang semakin parah, besoknya saya tanya sama bapak mertua
saya, dan tahu nggak jawaban beliau? Weedy kamu tahu darimana itu, duh malu saya untuk menjelaskannya sama kamu...
Kenapa
bapak mertua saya begitu enggan ketika saya sindir tentang hikikomori
ini? Sekali lagi karena ini hal yang tidak bagus, hal yang bisa membuat
malu keluarga, hal yang harus dicari solusinya dan pencegahannya. Sampe
segitunya ya. Makin diumpetin makin penasaran saya.
Di
Televisi saya baru tahu kalau Hikikomori itu bukan saja menjangkiti
anak kecil yang tidak mau main keluar karena main game atau keasikan
baca manga di kamar, tapi bisa juga kena untuk orang dewasa! Saya
sumpah kaget saat presenternya mewawancarai seorang bapak sudah berumur
70 tahun yang merasa khawatir dengan keadaan anaknya yang suka
mengurung dikamar. “Bayangkan umur anak saya sekarang sudah 40
tahun!! Bagaimana bisa menikah dan punya keluarga sendiri, kalau semua
waktunya dihabiskan didalam kamar, dan hanya keluar kalau sudah waktunya
makan”, kata bapaknya dengan raut muka sedih.
Dan
yang lebih bikin mata saya melotot adalah ketika terlihat bapaknya itu
loh yang memasak makanan anaknya, dan saat mereka makan berdua dimeja
makan pun gak ada satupun kata yang keluar atau ngobrol apa kek sama
bapaknya. Kasihan saya yang melihatnya, dari penuturan bapaknya,
semenjak kehilangan ibunya (ibunya terlalu protek anaknya) anaknya itu
seperti kehilangan pegangan hidup. Pernah kerja di suatu perusahaan tapi
gak lama dipecat karena ya tentu saja bisa ditebak kurang bisa
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Melihat
semakin banyak orang-orang berprilaku hikikomori di sini dengan
dilatarbelakangi oleh berbagai macam kesusahan, kegagalan yang dirasa
sangat membekas dan membuat trauma hidup mereka, seperti :
- Ditinggal oleh orang tersayang, dalam hal ini orang tua atau pacar
- Pernah ditolak oleh wanita yang diam-diam dicintainya
- Mendapat tekanan di tempat kerja
- Gagal dalam ujian
- Di bully oleh teman-temannya, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana tanggapan pemerintah Jepang?? dalam siaran itu terlihat banyaknya bantuan dari lembaga-lembaga sosial dimana para volunteer mendatangi rumah orang-orang yang berprilaku hikikomori ini. Mereka diberi keyakinan kalau dunia luar itu memang bisa aman dan tidak nyaman, tapi justru itu kita harus cari jalan gimana agar bisa survive. Suatu penolakan atau diabaikan oleh lingkungan adalah hanya suatu bagian kecil dari perjalanan hidup, harus dicari solusi dan harus bikin kita makin kuat untuk menyongsong dan melanjutkan hidup. Deeg ngena banget buat saya juga nih sebagai orang asing yang numpang tinggal di negeri orang, uraian yang sangat bijaksana, manfaat buat saya sendiri.
Lalu
terapi bagi orang hikikomori ini bagaimana? orang-orang hikikomori ini
akan digiring ke tempat perkumpulan, dimana disana sudah ada para
pembimbing dan orang-orang hikikomori lainnya. Diperkumpulan itu
diadakan seperti semacam diskusi dan terapi untuk membuat prakarya yang
melibatkan team work.
Pada
awalnya sangat susah melibatkan orang hikikomori ini karena adanya
ketidak percayaan diri dan merasa dirinya lemah dan tidak berguna. Tapi
sejalan dengan waktu dan sedikit demi sedikit bisa terlihat mereka mulai
memiliki rasa nyaman setelah beberapa kali pertemuan. Mulai berani
untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar teman-temannya. Saya pun yang
melihatnya sampai berkaca kaca.
Orang-orang
hikikomori ini janganlah justru kita ejek atau semakin kita sisihkan,
tapi ulurkanlah tangan untuk membantunya keluar dari dunianya. Bagi yang
mempunyai anak dan saudara yang cenderung mirip dengan sifat hikikomori
ini harus segera `dipaksa` untuk sering diajak jalan keluar, diajak
pergi kerumah saudara atau mengundang teman main kerumahnya.
Kegiatan
lainnya adalah, dengan melakukan piknik keluarga, pergi ketempat
rekreasi dan tentu saja harus sering untuk diajak bercengkerama agar
selalu merasa dirinya bagian penting dari suatu kelompok/komunitas.
Kegiatan atau perbuatan yang kadang kita angap sepele ini kadang justru
jadi suatu hal yang sangat penting dan berharga bagi penderita
hikikomori ini.
Keluarga
sebagai elemen terdekat harus cepet tanggap dan mencegah agar jangan
sampai berkelanjutan, karena memang untuk pengobatan mentalnya ini
katanya butuh bertahun-bertahun dengan bantuan dari seorang psikiater.
Bagi
yang bangga berkoar-koar kalau dirinya seorang Hikikomori, please stop
it. Karena itu bukanlah hal yang jadi bahan mainan atau trend untuk
diikuti. Gaya atau sesuatu dari luar negeri tidak selamanya patut untuk
ditiru namun haruslah kita cek dan telaah dahulu sebelum diikuti untuk
diterapkan dalam keseharian sebagai gaya hidup.
Salam Hangat, wk
Artikel IJIME/BULLY di Jepang
http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/10/20/ijime-bully-di-jepang-603317.html
(Sumber: http://m.kompasiana.com/post/read/711387/2/hikikomori-mewabah-di-indonesia.html)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Bbm: 7ed969c0
wah jadi tau apa itu hikikomori
BalasHapusberita banjir