“Kamu
kan cantik, kok engga pacaran sih? Masa engga ada yang mau?”
“Eh
eh, lu kan ganteng bro, cewek mana juga pasti lu dapet, kenapa jomblo aja?’
Kamu pasti punya teman yang sering mendapatkan
pertanyaan seperti itu, bukan? Atau justru dirimu sendiri yang menjadi sasaran
pertanyaan-pertanyaan tersebut yang selalu datang di kala ada orang yang baru
mengenalmu. Atau malah pertanyaan itu datang dari kawan lama, dan bahkan dari
keluargamu sendiri? Waduh, kalau begitu artinya kamu sudah lama menjadi jomblo atau
single indikasinya. Dan mungkin jawaban sebagian besarnya adalah ingin ta’aruf
saja. Menikah tanpa pacaran, betul?
Pilihan untuk ta’aruf sebelum pernikahan memang
sudah ada sejak lama, namun sepertinya beberapa tahun belakangan ini, memang
gaung untuk meninggalkan sesuatu yang bernama pacaran dan berpindah pada yang
namanya ta’aruf sedang besar-besarnya. Bukan hanya ajakan personal saja untuk
lebih memilih ta’aruf, ternyata banyak juga dari komunitas ataupun gerakan
pemuda bahkan juga tokoh-tokoh agama yang menganjurkan untuk lebih memilih
ta’aruf dibanding pacaran. Dan kebanyakan berasumsi bahwa dengan ta’aruf
nantinya akan lebih menjamin daripada pacaran, benarkah?
Di dalam sebuah forum online dimana membernya adalah
orang-orang yang ingin meningkatkan kapasitas dirinya, sempat ada pembahasan
persoalan pencarian jodoh, pernikahan, perceraian, dan tentu tidak ketinggalan,
ta’aruf vs pacaran. Banyak member yang senior memberikan kisah pengalaman hidup
mereka menjalani pernikahan dan juga perceraian. Sampai muncul satu statement
menarik,
“Ta’aruf sebelum
menikah tidak menjamin bahwa setelah menikah akan bahagia dan baik-baik saja. Pacaran
sebelum menikah bukan tolok ukur bahwa setelah menikah akan buruk”
Nah loh, masih yakin untuk ta’aruf? Ta’aruf tidak
menjamin kamu mendapat pasangan yang baik. Salah seorang guru (jika boleh saya
menganggap beliau guru saya) menjalani pernikahan dengan ta’aruf. Sudah
dijalani prosesnya dengan maksimal. Mengajukan pertanyaan dan sebagainya, tapi
hasilnya, nihil. Atau kamu berpikir bahwa menikah dengan mereka yang mereka
yang ikut ‘pengajian’ juga menjamin pernikahan akan baik-baik saja? Pun sama,
Saya mendapat cerita dari guru mengaji saya, tidak menjamin bahwa menikah
dengan mereka yang ikut ‘pengajian pekanan’ akan baik-baik saja.
Dari beberapa poin di atas, kesimpulannya adalah
ta’aruf tidak pasti bahagia dan pacaran tidak pasti sengsara, kamu mau pilih
yang mana? Terserah padamu. Namun ada satu yang pasti, pacaran sebelum menikah
dosanya yang udah pasti, nikahnya belum tentu. Masih mau?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
BBM: 541d7084
Tidak ada komentar:
Posting Komentar