Selasa, 24 November 2015

Ta'aruf Belum Tentu Bahagia

            “Kamu kan cantik, kok engga pacaran sih? Masa engga ada yang mau?”
            “Eh eh, lu kan ganteng bro, cewek mana juga pasti lu dapet, kenapa jomblo aja?’

Kamu pasti punya teman yang sering mendapatkan pertanyaan seperti itu, bukan? Atau justru dirimu sendiri yang menjadi sasaran pertanyaan-pertanyaan tersebut yang selalu datang di kala ada orang yang baru mengenalmu. Atau malah pertanyaan itu datang dari kawan lama, dan bahkan dari keluargamu sendiri? Waduh, kalau begitu artinya kamu sudah lama menjadi jomblo atau single indikasinya. Dan mungkin jawaban sebagian besarnya adalah ingin ta’aruf saja. Menikah tanpa pacaran, betul?


Pilihan untuk ta’aruf sebelum pernikahan memang sudah ada sejak lama, namun sepertinya beberapa tahun belakangan ini, memang gaung untuk meninggalkan sesuatu yang bernama pacaran dan berpindah pada yang namanya ta’aruf sedang besar-besarnya. Bukan hanya ajakan personal saja untuk lebih memilih ta’aruf, ternyata banyak juga dari komunitas ataupun gerakan pemuda bahkan juga tokoh-tokoh agama yang menganjurkan untuk lebih memilih ta’aruf dibanding pacaran. Dan kebanyakan berasumsi bahwa dengan ta’aruf nantinya akan lebih menjamin daripada pacaran, benarkah?

Di dalam sebuah forum online dimana membernya adalah orang-orang yang ingin meningkatkan kapasitas dirinya, sempat ada pembahasan persoalan pencarian jodoh, pernikahan, perceraian, dan tentu tidak ketinggalan, ta’aruf vs pacaran. Banyak member yang senior memberikan kisah pengalaman hidup mereka menjalani pernikahan dan juga perceraian. Sampai muncul satu statement menarik,

“Ta’aruf sebelum menikah tidak menjamin bahwa setelah menikah akan bahagia dan baik-baik saja. Pacaran sebelum menikah bukan tolok ukur bahwa setelah menikah akan buruk”

Nah loh, masih yakin untuk ta’aruf? Ta’aruf tidak menjamin kamu mendapat pasangan yang baik. Salah seorang guru (jika boleh saya menganggap beliau guru saya) menjalani pernikahan dengan ta’aruf. Sudah dijalani prosesnya dengan maksimal. Mengajukan pertanyaan dan sebagainya, tapi hasilnya, nihil. Atau kamu berpikir bahwa menikah dengan mereka yang mereka yang ikut ‘pengajian’ juga menjamin pernikahan akan baik-baik saja? Pun sama, Saya mendapat cerita dari guru mengaji saya, tidak menjamin bahwa menikah dengan mereka yang ikut ‘pengajian pekanan’ akan baik-baik saja.


Dari beberapa poin di atas, kesimpulannya adalah ta’aruf tidak pasti bahagia dan pacaran tidak pasti sengsara, kamu mau pilih yang mana? Terserah padamu. Namun ada satu yang pasti, pacaran sebelum menikah dosanya yang udah pasti, nikahnya belum tentu. Masih mau?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Email: panjisyamsi31@gmail.com
Facebook: Panji Nursamsi
Twitter: @panjisyamsi
BBM: 541d7084

Tidak ada komentar:

Posting Komentar